Senin, 16 April 2012

TEORI PEMBELAJARAN CLARK L.HULL


1.Biografi Clark Leonard Hull
            Clark L. Hull (1884-1952) meraih gelar Ph. D. dari university of Wisconsin pada 1918, tempat dia mengajar dari 1916 sampai 1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tetap di sana sampai meninggal. Karier Hull dapat dibagi menjadi tiga bagian terpisah, yaitu perhatian utama pertamanya adalah tes bakat dan kecakapan, perhatian kedua Hull adalah hypnosis, dan perhatian ketiganya, dan karya yang membuat terkenal adalah studi proses belajar. Buku buatan pertama Hull mengenai belajar, principles of behavior (1943) mengubah studi tentang belajar secara radikal. Karya ini adalah usaha pertama untuk mengaplikasikan teori ilmiah yang komprehensif ke dalam studi fenomena psikologis yang kompleks. Hull adalah orang pertama yang menggunakan teori yang kukuh untuk mempelajarai dan menjelaskan proses belajar. Atas usahanya, Hull menerima warren Medal pada 1945 dari society of Experimental Psychology.
            Hull menderita cacat fisik yaitu kelumpuhan sebagian karena polio sejak kecil. Pada 1948 di terkena serangan jantung koroner dan empat tahun kemudian dia meninggal. Dalam buku terakhirnya (behavior system), dia mengekspresikan penyelasannya karena buku ketiga tentang belajar yang ingin ditulisnya tidak pernah terwujud.
            Walaupun Hull merasa teorinya belum lengkap, namun teorinya sangat berpengaruh terhadap teori belajar di seluruh dunia. Clark Hull adalah kontributor utama untuk pengetahuan kita tentang proses belajar. Tujuan teori Hull adalah menjelaskan perilaku adaptif dan untuk memahami variabel-variabel yang mempengaruhinya. Dapat dikatakan bahwa Hull tertarik untuk menyusun sebuah teori yang menjelaskan bagaimana kebutuhan tubuh, lingkungan dan perilaku saling berinteraksi untuk meningkatkan probabilitas survival organisme.

2.Pendekatan teorisasi Hull
            Sebagai langkah pertama dalam menyusun teorinya, Hull menyelesaikan ulasan mendalam terhadap riset-riset tentang belajar yang sudah ada. Kemudian dia berusaha meringkaskan temuannya itu. Pendekatah Hull dalam membangun suatu teori dinamakan hypothetical deductive (deduksi hipotesis) atau logical deductive.
            Setiap teori ilmiah hanyalah alat yang membantu periset dalam mensintesiskan fakta dan dalam memahami ke mana mesti mencari informasi baru. Nilai dasar dari teori ditentukan oleh seberapa kuatkan ia bersesuaian dengan fakta yang teramati atau dalam kasus ini dengan hasil eksperimen. Otoritas utama dalam ilmu pengetahuan ilmiah adalah dunia empiris. Meskipun teori Hull dapat sangat abstrak, ia tetap harus memberi pernyataan tentang kejadian yang dapat diamati. Seberapa pun abstraknyasuatu teori, ia pada akhirnya mesti menghasilkan proposisi yang dapat diverifikasi secara empiris.

3.Konsep Teoritis Utama
            Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti geometri Euclid. Postulat-postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang secara logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Pertama-tama kita akan mendiskusikan enam belas postulat utama Hull yang dikemukakan pada 1943, dan kemudian kita akan melihat ke revisi utama yang dilakukan Hull pada 1952.
 Postulat 1: Sensing the external environment and the Stimulus Trace. Stimulasi eksternal memicu dorongan neural (sensoris) afferent, yang bertahan lebih lama ketimbang stimulasi environmental. Jadi, Hull mempostulatkan adanya suatu stimulus traces (jejak stimulus) yang bertahan selama beberapa detik setelah kejadian stimulus berhenti. Karena dorongan neural afferent ini menjadi diasosiasikan dengan suatu respons, Hull mengubah rumusan S-R tradisional menjadi S-s-R. jejak stimulus pada akhirnya menyebabkan reaksi neural efferent (motor) (r) yang menghasilkan respons tegas. Jadi kita punya S-s-r-R, di mana S adalah stimulasi eksternal, s adalah jejak stimulus, r adalah pengaktifan neuron motor, dan R adalah respons yang jelas.
Postulat 2: The Interaction of Sensory Impulses. Interaction of sensory impulses ( s ) (interaksi dorongan sensoris [indrawi]) mengindikasikan stimulasi dan karenanya menunjukkan kesulitan dalam memprediksi perilaku. Perilaku jarang merupakan sebuah fungsi dari hanya satu stimulus. Ia adalah fungsi dari banyak stimulus yang dihadapan suatu organisme pada satu waktu. Banyak stimuli dan jejaknya itu saling berinteraksi satu sama lain dan sintesisnya akan menentukan perilaku
Postulat 3: Unlearned behavior. Hull percaya bahwa organisme dilahirkan dengan hierarki respons, unlearned behavior (perilaku yang tak dipelajari), yang akan aktif jika dibutuhkan. Misalnya, jika suatu objek asing masuk mata, maka secara otomatis akan berkedip-kedip dan keluarlah air mata. Jika suhu melebihi suhu yang optimal bagi fungsi tubuh, maka tubuh akan berkeringat. Demikian pula, rasa sakit, lapar, atau haus akan memicu respons bawaan tertentu yang berprobabilitas tinggi mereduksi efek dari kondisi-kondisi tersebut.
Postulat 4: contiguity and Drive reduction as Necessary conditions for Learning. Jika satu stimulus menimbulkan respons dan jika respons itu bisa memuaskan kebutuhan biologis, maka asosiasi antara stimulus dan respons akan diperkuat. Semakin sering stimulus dan respons yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan dipasangkan, semakin kuat hubungan antara stimulus dan respons tersebut. Reinforcement (penguatan) primer menurut Hull harus memuaskan kebutuhan, atau apa yang oleh Hull dinamakan drive reduction (reduksi dorongan). Postulat 2 juga mendeskripsikan reinforce (penguat) sekunder sebagai “stimulus yang diasosiasikan secara erat dan konsisten dengan pengurangan kebutuhan. Ringkasnya, kita dapat mengatakan bahwa jika satu stimulus diikuti dengan satu respons, yang pada gilirannya diikuti dengan penguatan (entah itu primer atau sekunder), asosiasi antara stimulus dan respons akan menguat. Juga dapat dikatakan bahwa “kebiasaan” (habit) memberi respons terhadap stimulus itu akan menjadi lebih kuat. Istilah yang dipakai Hull, habit strength (kekuatan kebiasaan [SHR ] ).

Postulat 5: stimulus generalization. Hull mengatakan bahwa kemampuan suatu stimulus (selain stimulus yang digunakan selama pengkondisian) untuk menimbulkan respons yang dikondisikan ditentukan oleh kemiripannya dengan stimulus yang digunakan selama training. Jadi, SHR  akan digeneralisasikan dari satu stimulus ke stimulus lain sepanjang dua stimulus itu sama. Postulat stimulus generalization (generalisasi stimulus) ini juga mengindikasikan bahwa pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi proses belajar yang sekarang; artinya, belaja yang pernah terjadi dalam kondisi yang sama akan ditransfer ke situasi belajar yang baru. Hull menyebut proses ini sebagai generalized habit strength (kekuatan kebiasaan yang digeneralisasikan (SHR ).

Postulat 6: Stimuli associated with drives. Definisi biologis dalam organisme akan mengahsilkan drive (dorongan[D]), dan setiap dorongan diasosiasikan dengan stimuli spesifik. Contohnya adalah rasa perut lapar yang mengiringi dorongan lapar, dan mulut kering, bibir kering, dan tenggorokan kering yang mengiringi dorongan haus. Adanya stimuli dorongan spesifik memungkinkan kita untuk mengajari hewan agar nberperilaku tertentu di dalam satu keadaan dorongan dan berperilaku lain dalam keadaan dorongan lain. Misalnya, hewan bisa diajari berbelok ke kanan dalam jalan berbentuk T apabila ia lapar dan berbelok kiri jika ia haus.

Postulat 7: Reaction as a Function of Drive and habit strength. Kemungkinan respons yang dipelajari akan terjadi pada satu waktu tertentu dinamakan reaction potential (potensi reaksi [SER]). Potensi reaksi adalah fungsi dari kekuatan kebiasaan [SHR ] dan dorongan (D). agar respons yang terjadi, [SHR ] harus diaktifkan oleh D. Dorongan tidak mengarahkan perilaku; ia hanya membangkitkannya dan mengintensifkannya. Tanpa dorongan, hewan tidak akan melakukan respons yang telah dipelajari meskipun telah ada banyak pasangan yang diperkuat antara stimulus dan respons.

Postulat 8: Responding Causes Fatigues, Which Operates Against the Elicitation of a Conditional Response. Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan. Keletihan pada akhirnya akan menghambat respons. Reactive Inhibition (hambatan reaktif [IR]) disebabkan oleh kelelahan akibat aktivitas otot dan kegiatan dalam menjalankan tugas. Karena bentuk penghambat ini berhubungan dengan keletihan, maka ia secara otomatis akan hilang jika organisme berhenti beraktivitas.

Postulat 9: the Learned Response of Not Responding. Kelelahan adalah pendorong negative, dan karenanya tidak memberikan respons akan menghasilkan penguatan. Tidak member respon akan menyebabkan IR menghilang, dan karenanya mengurangi dorongan kelelahan. Respons untuk tidak merespons ini dinamakan conditioned inhibitattion (SIR) (hambatan yang dikondisikan)

Postulat 10: Factors Tending ti Inhibit a Learned respons Change from Moment to Moment. Menurut Hull, ada “potensi penghambat” yang bervariasi dari satu waktu ke waktu lainnya dan menghambat munculnya respons yang telah dipelajari. “potensi penghambat” ini dinamakan oscillation effect (efek guncangan [SOR] ).

Postulat 11: momentary Effective Reaction potential Must Exceed a certain value before a Leraned Response can Occur. Nilai SER  yang harus lebih tinggi sebelum respons yang terkondisikan dapat muncul dinamakan reaction threshold (ambang reaksi SLR ). Karenanya, respons yang telah dipelajari akan muncul hanya jika SER lebih besar daripada SLR

Postulat 12: The Probability that a Learned response Will Be Made is a Combined Function of SER , SOR, SLR . dalam tahap awal training, yakni hanya setelah beberapa percobaan yang diperkuat  SER  akan dekat dengan  SLR  sehingga, karena efek dari   SOR,  respons yang terkondisikan akan muncul dibeberapa percobaan tetapi tidak dipercobaan lainnya.

Postulat 13: The Greater the Value of SER the sorter will be the latency between S and R. latency [str ] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respons yang dipelajarinya. Postulat ini menyatakan bahwa waktu reaksi antara awal stimulus dan kemunculan respons yang telah dipelajari akan turun jika nilai SER naik.

Postulat 14: The value of SER  will determine resistance to Extinction. Nilai SER di akhir training menentukan resistensi terhadap pelenyapan, yakni berapa banyak dibutuhkan respons yang tak diperkuat sebelum terjadinya pelenyapan. Semakin besar nilai SER  , semakin besar pula jumlah respons tak diperkuat yang dibutuhkan sebelum pelenyapan terjadi. Hull menggunakan n untuk melambangkan jumlah percobaan yang tak diperkuat yang terjadi sebelum terjadi pelenyapan.

Postulat 15: The amplitude of a conditional response varies directly with SER. Beberapa respon yang dipelajari terjadi bertingkat-tingkat, misalnya, keluarnya air liur atau galvanic skin response (GSR). Ketika respons yang terkondisikan adalah respons yang terjadi secara bertingkat, besarannya akan terkait langsung besarnya sEr , potensi reaksi efektif potensial. Hull menggunakan A untuk melambangkan amplitude respons ini.

Postulat 16 : When Two or More Incompatible Response Tend to be Elicited in the Same Situation, the One with the Greatest  sEr  will occur.  Postulat ini sudah cukup jelas.
4.Perbedaan Utama Antara Teori Hull Tahun 1943 Dengan 1952 Motifasi Insentif (K)

            Dalam teorinya tahun 1943, Hull membahas besaran penguatan sebagai variabel pengajar. Semakin besar jumlah penguatan, semakin besar jumlah reduksi  dorongan, dan karenanya semakin besar peningkaran dalam SHR. Eksperimen mengindifikasikan bahwa kinerja berubah secara dramatis saat besarnya penguatan divariasikan setelah belajar selesai. Misalnya, ketika hewan dilatih untuk barlari lurus untuk mendapaan suatu penguat kemudian dialihkan untk mendapatkan penguat yang lebih besar, kecepatannya larinya tiba-tiba bertambah. Ketika hewan yang dilatih dengan penguat yang besar dialihkan dengan penguat yang lebih kecil, kecepatan yang lainnya menurun. Crespi (1942, 1944) dan Zeaman (1949) adalah dua eksperimanter awal yang menemukan bahwa kinerja berubah secara radikal ketika basaran penguatan diubah.
            Perubahan kinerja setelah perubahan besaran penguatan tidak dapat dijelaskan dalam term perubahan SHR karena perubahan itu terlampau cepat. Kecuali satu atau lebih faktor beroperasi melawan SHR, nilainya tidak akan turun. Hasil yang sering dijumpai oleh Crespi  dan Zaeman menyebabkan Hull mengambil kesimpulan bahwa organisme belajar sama cepatnya untuk insentif kecil dan insentif besar, namun binatang melakukannya (to perform) secara berbeda sesuai dengan variasi besarnya insentif (K). Perubahan kinerja yang cepat setelah adanya perubahan ukuran penguatan ini disebut sebagai Crespi effect (efek Crespi).
5.Dinamisme Intensitas-Stimulus
            Menurut Hull, stimulus-intensity dynamism (dinamisme intensitas-stimulus [V]) adalah variabel pengintervensi yang bervariasi menurut intensitas stimulus eksternal (S). Secara sederhana dinamisme intensitas-stimulus menunjukkan bahwa semakin besar intensitas dari suatu stimulus, semakin besar kemungkinan munculnya respons yang telah dipelajari. Jadi, kita harus merevisi rumus Hull awal untuk potensi reaksi sementara:
SER = (SHR x D x V x K – [IR + SIR]) - SoR            
            Menarik untuk dicatan bahwa karena SHR, D, V, dan K dikalikan bersama-sama, maka jika salah satu dari nilai ini adalah nol.
a.Perubahan dari Reduksi Dorongan ke Reduksi Stimulus Dorongan
            Pada awalnya Hull menganut teori reduksi belajar, namun kemudian dia merevisinya menjadi teori drive stimulus reduction (reduksi stimulus dorongan) dalam belajar. Salah satu berubahan ini adalah kesadaran bahwa jika hewan yang haus diberi air sebagai penguat agar melakukan beberapa tindakan, akan dibutuhkan banyak waktu untuk memuaskan dorongan haus ini. Efek dari penyerapan air akhirnya mencapai ke otak, dan akhirnya dorongan haus akan berkurang. Hull menyimpulkan bahwa reduksi dorongan tidak memadai untuk menjelaskan proses belajar. Yang dibutuhkan untuk menjelaskan belajar adalah sesuatu yang terjadi setelah penyajian penguat, dan sesuatu itu adalah reduksi drive stimulus (stimuli dorongan [SD]).
            Alasan perubahan teori reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan diberikan oleh Sheffield dan Roby (1950), yang menemukan bahwa tikus yang lapar diperkuat oleh sakarin yang tidak mengandung nutrisi, yang tidak mungkin mereduksi dorongan lapar.
b.Respons Tujuan Pendahulu Fraksional
            Anda ingat bahwa ketika stimulus neural secara konsisten dipasangkan dengan penguatan primer, ia akan memiliki properti penguatan sendiri, yakni, ia menjadi penguatan sekunder. Konsep penguatan sekunder ini sangat penting untuk memahami operasi fractional antedating goal response (perpon tujuan pendahulu fruksional [rG]), yang merupakan salah satu konsep terpenting dari Hull.
            Misalnya kita memilih tikus untuk mencari suatu makan lewat jalan yang ruwet. Kita letakkan si tikus ini di kotak awal dan akhirnya ia mencapai kotak tujuan yang berisi makanan, penguat primer. Berdasarkan pengkondisian klasik, si tikus akan mengembangkan respon terkondisikan yang mirip dengan respon yang tak terkondisikan. Dalam contoh kita, respon yang tak terkondisikan adalah keluarnya air liur, mengunyah dan menjilat, yang ditimbulkan oleh adanya makanan yang diberikan kepada hewan yang lapar ini. Respon terkondisikan, yang juga melibatkan air liur, pengunyahan dan penjilatan, akan dimunculkan berbagai stimuli dalam kotak tujuan saat tikus itu menekati makanan. Respon tujuan pendahulu fruksional adalah respons terkondisikan terhadap stimuli, yang dialami sebelum pencernaan makanan. Perkembangan rG di tunjukkan pada gambar dibawah ini:


















Rounded Rectangle: Juga dinamakan RG atau respons tujuan







Rounded Rectangle: Respon yang Dikondisikan yang Dimunculkan oleh Stimuli yang Mendahului US Dinamakan  Respons Tujuan Pendahulu Fraksional atau rG




 










Ketika stimuli neural sebelumnya ini menjadi penguat sekunder, stimuli itu akan menjalankan dua fungsi penting: (1) mereka akan memperkuat respons nyata yang menyebabkan organisme hubungan dengannya, dan (2) mereka akan menimbulkan rG.
Dua karaktiristik dari rG harus dicatat. Pertama, rG harus selalu merupakan beberapa fraksi (bagian) dari respons tujuan (rG). Jika respons tujuan adalah makan, maka rG akan berupa gerakan mengunyah dan mumgkin mengeluarkan liur. Kedua, dan lebih penting, rG menghasilkan stimulasi . respon yang tegas mengaktifkan respektor karakteristik otot, tendon, dan sendi, menyebabkan apa yang oleh Guthrie sebagai movemen-producted stimuli. Secar lebih teknis, pengaktifan respektor kinestetik ini menimbulkan propioceptive stimuli (stimuli propioseptif). Seperti respons lainnya, rG disosialisasikan dengan stimuli.
Setelah terjadi sejumlah besar proses belajar memecahkan teka teki itu, situasi yang muncul adalah sebagai berikut: stimuli di kotak awal akan menjadi sinyal, atau SD, untuk meninggalkan kotak awal sebab dengan meninggalkan kotak awal si hewan akan mendekati penguat sekunder. Penguat sekunder dalam situasi ini memiliki tiga fungsi: ia memperkuat respon yang baru saja diberikan oleh hewan; ia bertindak sebagai SD untuk merspons selanjutnya, dan ia menimbulan rG. Ketika rG muncul, ia segera otomatis menghasilkan sG. Fungsi utama dari sG adalah memunculakn respons selanjutnya. Jadi baik penguat sekunder, yang eksternal, maupun sGs, yang internal, cenderung menimbulkan respons nyata.
Respons yang paling cepat membawa hewan ke penguat sekunder berikutnya akan menjadi respons yang akhirnya akan diasosiasikan dengan sG. Ketika penguat sekunder berikutnya dialami, ia akan memperkuat respons nyata yang diberikan sebelum itu, dan ia akan menghasilkan rG berikutnya. Ketika rG dimunculan ia memicu sG selanjutnya, yang akan memicu respons selanjutnya, dan demikian selanjutnya.
Jelas bahwa Hull memiliki dua penjelasan untuk proses barantai yang dipakai secara simultan. Penjelasan yang pertama, yang menekankan stimuli eksternal, adalah mirip dengan penjelasan Guthrie, karenanya, mengombinasikan gagasan Skinner dan Guthrie dan mengatakan bahwa perilaku berantai adalah fungsi dan syarat eksternal atau isyarat internal sekaligus eksternal.

6.Hierarki Rumpun Kebiasaan
            Di sini Hull berbicara tentang hubungan tunggal dalam rantai behavioral, tetapi ide yang sama dapat digeneralisasikan ke seluruh rantai behavioral. Entah itu seseorang bicara tentang respon tunggal atau sederetan respons, penguatan menimbulkan efek merusak terhadap potensi reaksi. Demikian pula, respons individual atau rantai respons yang muncul dari penguatan yang cepat akan nilai SER yang lebih tinggi, dan lebih mungkin terjadi ketimbang respons atau rantai behavioral dengan penundaan yang lebih lama di antara kejadian dan penguatannya.
            Rute paling langsung melalui jalur-jalur yang rumit, entah itu jalur berbentuk T atau yang lebih ruwet lagi, memilii jumlah SER paling banyak sebab ia tidak menimbulkan jeda yang lama dan juga karena hanya ada sedikit hambatan reaktif dan terkondisikan yang akan dikurangkan dari SER. Tetapi rute terpendek hanyalah salah satu dari sekian banyak rute.
            Ada hubungan erat antara hierarki rumpun kebiasaan dengan bagaimana respons tujuan pendahulu fraksional (rG) dan stimulus yang menimbulkannya (sG) beroperasi dalam proses berantai ini. Beberapa respons ini akan langsung muncul saat menemui penguat sekunder, dan yang lainnya tidak. Pada akhirnya, respons yang paling cepat membawa hewan berjumpa dengan penguat sekunderakan menjadi respons sekunder karena respons itu memiliki nilai SER tertinggi. Ingat, semakin lama penundaan penguatan (J) semakin rendah nilai SEG.


7.Ringkasan Sistem Terakhir Hierarki
            Ada tiga variabel dalam teori Hull:
1.    Variabel bebas (independen), yang merupakan kejadian stimulus yang secara sistematis dimanipulasi oleh eksperimenter.
2.    Variabel pengintervensi (intervening), yakni dianggap terjadi di dalam organisme tetapi tidak dapat diamati secara langsung. Semua variabel pengitervensi dalam sistem Hull didefinisikan secara operasional.
3.    Variabel terikat (dependen), yakni beberapa aspek dari perilaku yang diukur oleh eksperimenter dalam rangka menentukan apakah variabel bebas punya efek atau tidak.

8.Pandangan Hull Tentang Pendidikan
            Teori belajar Hull adalah terori reduksi dorongan atau reduksi stimulus dorongan. Mengenai soal spesifibialitas tujun, ketertiban kels, dan proses belajar dari yang sederhana ke yang kompleks, Hull sepakat dengan Thorndike. Namun menurutnya , belajar melibatkan dorongan yang dapat direduksi. Sulit membayangkan bagaimana reduksi dorongan primer dapat berperan dalam belajar dikelas. Tetapi beberapa pengikut Hull menekankan kecemasan sebagai sebentuk dorongan dalam proses belajar manusia.berdasarkan penalaran ini, maka mereduksi kecemasan murid adalah syarat yang diperukan untuk belajar dikelas.
            Latihan harus di distribusikan dengan cermat agar hambatan tidak muncul. Guru Hullian akan membagi topik-topik yang diajarkannya sehingga pembelajar (siswa) tidak akan kelelahan yang bisa mengganggu proses belajar. Topik-topik itu juga diatur sedemikian rupa sehingga topik yang berbeda-beda akan saling berurutan. Misalnya, urutan pelajaran yang baik adalah metematiak, pendidikan olahraga, bahasa Inggris, sni, dan sejarah.
            Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan sebagai berikut:
Drive               : pembalajar harus menginginkan sesuatu
Cue                  : pembelajar harus memperhatikan sesuatu
Response         : pembelajar harus melakukan sesuatu
Reinforcement            : respon pembelajar harus membuatnya mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
            Revisi teori Hull oleh Spence menyatakan bahwa siswa belajar tentang hal-hal yang mereka lakukan. Jadi, Spence adalah terorisi kontiguitas. Menurut Spence, insentif adalah penting, sebab insentif memotivasi siswa untuk menerjemahkan apa-apa yang telah dipelajarinya ke dalam perilaku. Dengan menghubungkan insentif (penguat) ke kinerja, bukan ke belajar, posisi Spence dekat dengan posisi Tolman dan Bandura.

9.Evaluasi Teori Hull
Kontribusi
Teori belajar Hull berpengaruh besar terhadap psikologi. Marx dan Cronan – Hilix (1987) mengatakan :
Kontribusi terpenting dari Hull untuk psikologi adalah dia menunjukkan manfaat dari mengarahkan pandangan seseorang terhadap tujun utama dari teori perilaku yang sistematis dan ilmiah. Dia menjalani kehidupan ilmiah untuk mencapai tujuan itu, dan karenanya mempengaruhi bahkan mereka yang tidak sepakat dengan detail karyanya. Hanya ada sedikit psikolog yang memberikan pengaruh begitu besar terhadap banyak periset. Dia memopulerkan pendekatan behavioristik yang amat objektif.
Teori hull membahas sejumlah fenomena behaviorial dan kognitif. Cakupan teorinya, yang di padukan dengan definisi variabelnya yang detail, mengundang banyak penelitian empiris. Rashotte dan Amsel (1999) mengatakan :
Rencana Hull untuk behaviorisme S – R sangat ambisius. Ia ingin memprediksi perilaku individu dalam isolasi, dan dalam kelompok. Ia ingin mengkonseptualisasikan basis untuk perilaku adaptif dalam pengertian luas, termasuk proses kognitif tertentu dan perbedaan kinerja antara berbagai spesies dan individual. Ia ingin mengunakan matematika dan logika yang ketat sebagai cara untuk memastikan asumsi dan memprediksi dan membandingkannya dengan teori lain secara jelas.
Kriteria Popper terpenting untuk teori ilmiah, yakni teori itu mesti membuat prediksi yang spesifik dan dapat diuji. Teori Hull adalah teori pertama yang memenuhi kriteria Popper. Penegasan Hull pada definisi konsep yang tepat dan pernyataan matematika yang menghubungkan konsep – konsepnya dengan perilaku telah memberi arah yang jelas untuk menguji teorinya. Menurut Hull, penguatan bergantung pada reduksi dorongan atau stimuli dorongan yang di hasilkan oleh kondisi kebutuhan fisiologis. Hipotesis reduksi dorongan adalah usaha pertama untuk membedakan diri dari definisi pemuas / penguat yang kurang tegas yang menjadi ciri teori Thorndike dan Skinner. Hull juga merupakan orang pertama yang membuat prediksi yang persis tentang efek gabungan dari belajar dan dorongan terhadap perilaku dan tentang efek keletihan (via hambatan reaktif dan terkondisikan).



Kritik
Meski berpengaruh besar, teori Hull mengandung masalah. Ia di kritik karena kurang teorinya, kecil sekali manfaatnya untuk menjelaskan perilaku di luar laboratorium, karena terlalu menekankan pada konsep yang di definisikan secara operasional, dan karena memberikan prediksi yang tidak konsisten. Dalam ulasannya tentang versi terakhir dari teori Hull. Hill (1990) mengatakan :
Misalkan kita ingin mengetahui di butuhkan berapa kali percobaan yang tak di perkuat secara brurutan untuk menghasilkan pelenyapan yang menyeluruh. Salah satu pendekatan mungkin mengunakan postulat 16, yang menerjemahkan potensi excitatory langsung ke percobaan pelenyapan. Pendekatan kedua adalah dengan mengunakan postulat 9 untuk menghitung jumlah hambatan reaktif dan mengurangkannya dari potensi excitatory itu. Pendekatan ketiga adalah mencatat (postulat 7) bahwa ketiga jumlah imbalan adalah nol, nilai K juga nol, yang membuat potensi exicitatori nol pula, terlepas dari nilai variabel pengintervensi lainnya. Ternyata tiga pendekatan ini memberikan jawaban yang saling bertentangan. Ketika suatu teori menghasilkan prediksi yang tidak benar, ia dapat di modifikasi, seperti yang di inginkan Hull. Ketika teori tidak membahas suatu isu tertentu sama sekali, kita dapat menerima keterbatasan ini dan berharab suatu hari teori itu di perluas hingga mencakup bahasan topik yang di abaikannya itu. Akan tetapi, ketika sebuah teori secara internal tidak konsisten, sehingga memberikan prediksi yang saling bertentangan mengenai suatu isu tertentu, maka kelayakannya sebagai teori patut di pertanyakan.
Meski Hull tampaknya bersedia untuk di uji teorinya, Koch (1954) menunjukkan bahwa Hull tidak merevisi teorinya saat data problematik dan mungkin  ia menghabiskan hasil – hasil yang bertentangan. Kritik kontemporer juga memperkuat tema ini.
Bahkan meski ada langkah – langkah pembelaan, riset selanjutnya menunjukkan bahwa penguatan terjadi dengan atau tanpa reduksi dorongan atau stimuli dorongan dan,seperti yang akan kita bahas nanti, bentuk metematika dari teori itu di tentang oleh Kenneth Spence. Salah satu keterangan yang menarik menyatakan bahwa Hull membangun teori secara terbalik. Shepard (1992) menulis :
Alih – alih mendeduksi regulalitas yang dapat di uji secara empiris dari prinsip utama, Hull dan Spence merancang variable bebes yang di ukur secara empiris berdasarkan variabel terikat yang di  manipulasi secara eksperimental mencari fungsi matematis yang tampaknya dekat dengan rancangan itu, dan kemudian mengajukan fungsi yang di pilihnya sebagai “postulat” dari teori mereka. Seperti pernah di katakan oleh George Miller Hull dan rekan – rekannya mengawali dengan mengasumsikan apa yang seharusnya terjadi.
Namun, dengan segala kekeliruannya, teori Hull termasuk salah satu dari teori paling heuristik dalam sejarah psikologi. Selain memicu banyak eksperimen, penjelasan Hull mengenai penguatan, dorongan, pelenyapan dan generalisasi telah menjadi kerangka standar acuan dalam diskusi konsep – konsep tersebut sampai saat ini.
Setelah Hull meninggal, juru bicara utama untuk pandangan Hullian adalah Kenneth W. Spance, yang mengembangkan dan memodifikasi teori Hull secara signifikan. Pengikut Hull penting lainnya adalah Neal E. Miller, yang memperluas teori Hull ke area personalitas, konflik, prilaku sosial, dan psikoterapi. Robert R. Sears, yang menerjemahkan sejumlah konsep Freudian ke dalam term Hullian dan juga melakukan banyak percobaan psikologi anak eksperimental, dan O. Hobart Mower, yang mengikuti banyak ide Hull saat mempelajari berbagai bidang seperti dinamika kepribadian dan karakteristik khusus dari proses belajar saat timbul kecemasan dan ketakutan.

O.Hobart Mowrer
Problem Pengkondisian Pengindraan. Jika aparatus di tata sedemikian rupa sehingga organisme menerima setrum listrik sampai ia melakukan suatu respon, maka organisme itu akan dengan cepat belajar melakukan repon itu saat ia di setrum. Prosedur ini di namakan escape conditioning (pengondisian untuk melarikan diri) :

Sakit                          R                         lari dari rasa sakir
      (setrum listrik)              (respon)                         (penguatan)

Selain adanya sinyal yang mendahului setrum, prosedurnya sama dengan pengondisian untuk melarikan diri. Prosedur yang di gunakan dalam pengondisian pengindraan adalah :
Sinyal                          Sakit                          R                        lari dari rasa sakit      
 (cahaya)                 (setrum listrik)             (respon)                       (penguatan)
Dengan pengkondisian pengindraan, organisme pelan – pelan belajar memberi respon yang tepat saat cahaya menyala, dan karenanya bisa menghindari setrum. Selanjutnya, respon menghindar ini di pertahankan terus bahkan ketika setrum tidak lagi di berikan. Pengkondisian pengindraan menimbulkan masalah bagi teori Hullian karena tidak jelas apa yang di perkuat respon penghindaran. Dalam rangka memecahkan problem ini, Mowrer mengusulkan teori belajar dua faktor.
Teori Belajar Dua Faktor. Mowrer mencatat bahwa tahap – tahap awal dari pengkondisian penghindaran di tata sedemikian rupa sehingga terjadi pengkondisian klasik atau Pavlovian. Sinyal bertindak sebagai stimulus yang di kondisikan (conditioned stimulus) (CS) dan setrum listrik sebagai stimulus yang tidak di kondisikan (unconditioned stimulus) (US), yang menimbulkan, antara lain, rasa takut. Pada akhirnya, CS yang di pasangkan dengan US, dengan sendirinya menghasilkan respon yang sama dengan UR (usconditioned response), yakni rasa takut.ketika cahaya menyala, organisme itu merasa takut. Jadi faktor pertama dalam two – factor theory (teori dua faktor) Mowrer adalah pengondisian klasik atau Pavlovian. Mowrer menyebut pengondisian ini sebagai sign learning (belajar tanda atau isyarat) sebab ia menjelaskan bagaimana stimuli yang sebelumnya netral, melalui asosiasi dengan US – US tertentu, menjadi tanda atau isyarat akan bahaya dan karenanya menimbulkan rasa takut.
Mowrer menyebut faktor ke dua dalam teori dua faktor ini sebagai Solution Learning (belajar solusi), dan ini oleh Hull dan Thorndike di namakan pengondisian instrumental atau oleh Skinner di namakan pengondisian operan. Belajar solusi adalah belajar untuk melakukan aktifitas – aktifitas yang akan menghentikan stimuli aversif (buruk) atau emosi negatif, seperti rasa takut, yang di timbulkan oleh stimuli yang menjadi tanda bahaya melalui pengondisian klasik.
Jadi Mowrer menemukan dorongan yang di cari oleh Hullian untuk menjelaskan pengkondisian penghindaran, dan dorongan itu di kondisikan oleh rasa takut. Mowrer berpendapat bahwa permulaan dari suatu CS yang di asosiasikan dengan rasa sakit akan memotifasi respon penghindaran, yang di perkuat oleh penghentian CS.
Penguatan Dekremental dan Inkremental. Mowrer pertama – tama membedakan antara US yang menghasilkan penambahan (increment) dorongan, misalnya kejutan strum, dan US yang menghasilkan pengurangan dorongan, misalnya makanan. Yang disebut belakangan ini di namakan decremental reinforcers (penguat dekremental) karena mengurangi suatu dorongan, yang dalam contoh ini adalah rasa lapar. Yang di sebut pertama dinamakan incremental reinforcer (penguat inkremental) karena menghasilkan atau menambah dorongan. Untuk dua jenis US itu, adalah mungkin untuk menghadirkan CS di awal atau pada saat penghentiannya. Jika CS dihadirkan sebelum setrum listris, ia akan menimbulkan emosi rasa takut. Jika CS di hadirkan sebelum penghentian setrum, ia akan menghasilkan rasa lega. Jika CS disajikan sebelum penyajian makanan, ia akan menibulkan rasa kecewa.
Dengan menunjukkan bahwa proses belajar yang penting dapat terjadi sebagai aibat dari induksi dorongan (awal) maupun reduksi dorongan (termiasi, penghentian), maka Mowrer menjauhi tradisi Hullian, yang hanya menekankan pada reduksi dorongan.
Semua Bentuk Belajar adalah Belajar Tanda. Mowrer telah menunjukkan bahwa stimuli eksternal yang diasosiasikan dengan US positif, seperti terminasi rasa sakit atau penyajian makanan, akan menimbulkan emosi kelegaan dan harapan. Demikian pula, stimuli eksternal yang diasosiasikan dengan US negatif, seperti datangnya rasa sakit atau penarikan makanan, akan menimbulkan rasa takut dan kecewa. Lalu Mowrer bertanya, apakah prinsip yang sama juga berlaku untuk internal ?
Reaksi internal tubuh, misalnya stimuli proprioseptif yang disebabkan oleh pengaktifan reseptor kinestetik, selalu mendahului respons nyata. Ketika organisasi berusaha memecahkan problem, seperti belajar melarikan diri dari stimulus aversif, belajar naik sepadah, maka ada respons nyata tertentu yang membawa kesuksesan, dan respon lainnya membawa kepada kegagalan. Sensasi tubuh yang mendahului respons yang sukses akan menimbulkan harapan karena alasan seperti ketika stimuli eksternal menimbulkan harapan. Sensasi tubuh yang mendahului respon yang gagal akan menimbulkan rasa takut, dengan alasan seperti ketika stimuli eksternal menimbulkan rasa takut.
Artinya beberapa tanda, baik eksternal maupun internal, menimbulkan ekspektasi seperti rasa sakit atau kegagalan sedangkan beberapa tanda lainnya menimbulkan ekspektasi rasa seneng dan keberhasilan.
Dengan berpendapat bahwa semua proses belajar adalah belajar tanda, Mowrer menciptakan teori belajar yang pada dasarnya bersifat kognitif.

KENNET W. SPENCE
Belajar Deskriminasi. Dalam belajar diskriminasi, hewan diberi dua stimuli dan di perkuat untuk merspon satu stimuli dan tidak di perkuat untuk merespon stimuli satu lagi. Secara umum ada asumsi bahwa Spence membuat belajar dalam situasi di mana organisme harus memilih satu di antara dua objek
1)    Kekuatan kebiasaan (SHR) menuju stimulus yang tidak di perkuat akan meningkat sering dengan penguat
2)    Hambatan (IR dan SIR) ke stimulus yang tidak di perkuat terbentu melalui percobaan non – pengetahuan.
3)   Kekuatan kebiasaan dan hambatan menghasilkan stimuli yang sama dengan stimuli yang di perkuat dan yang tak di perkuat.
4)   Besarnya kekuatan kebiasaan yang di generalisasikan adalah lebih besar ketimbang besarnya hambatan yang di generalisasikan.
5)   Kekuatan kebiasaan yang di generalisasikan dan hambatan yang di generalisasikan berkombinasi menurut deret hitung.
6)   Stimulus mana yang akan didekati akan tergantung pada penjumlahan deret hitung dari pendekatan (kekuatan kebiasan) dan tendensi penghindaran (hambatan).
7)   Ketika dua stimuli dihadirkan, stimulus dengan kekuatan kebiasaan terbesar terbesarlah yang akan di dekati dan di respon.

Penyangkalan Bahwa Penguatan adalah Kondisi yang Dibutuhkan untuk Pengkondisian Instrumen. Hullian kesulitan untuk menjelaskan hasil dari eksperimen Laten Learning (belajar laten), yang tampaknya mengindikasikan bahwa hewan dapat belajar tanpa di perkuat. Jadi, istilah belajar laten mengacu pada belajar yang terjadi tanpa penguatan.
Spance menyimpulkan bahwa pengondisian instrumental terjadi tanpa bergantung pada penguatan.

Motifasi Insetif. Menurut Spance, penguatan hanya mempengaruhi lewat Incentive motivation (motifasi insentif {K}). Spence mempengaruhi Hull untuk menambahkan konsep motivasi insentif ke dalam teorinya. Diyakini bahwa K di pilih sebagai simbol kerena ia adalah huruf dari nama pertama Spence. Tetapi, ternyata Spence memberi peran lebih besar pada K dalam teorinya ketimbang peran yang diberikan Hull untuk teorinya. Hull tampaknya punya masalah dengan K karena tidak jelas apa proses psikologis yang terkait dengannya. Kebanyakan konsep Hull dianggap memiliki basis fisiologis. Misalnya, kekuatan kebiasaan terkait langsung dengan dorongan atau stimulus dorongan, dan hambatan terkait langsung dengan keletihan. Akan, tetapi bagi Hull, tidak jelas proses fisiologis apa yang terkait dengan K dan itu merupakan persoalan baginya.
 Spence memecahkan problem ini dengan menghubungkan K langsung dengan mekanisme rG – sG. Seperti telah kita lihat di atas, meknisme rG – sG bekerja mundur dalam suatu jalur teka – teki dan akhirnya membimbing perilaku hewan dari kotak awal ke kotak tujuan. Spence menambahkan konsep isentif ini k proses pembimbing otomatis. Menurut Spence, kekuatan dari rG  - sG  di tentukan oleh K, dan semakin kuat rG – sG semakin besar insentitas untuk melintasi jalur itu. Secara sederhana dapat di katakan mekanisme rG – sG menimbulkan ekspetasi penguatan dalam diri hewan, yang memotifasinya untuk lari, dan semakin besar ekspektasinya, semakin kencang larinya. Dengan mendiskusikan mekanisme rG – sG  sebagai alat untuk menimbulkan ekspektasi, Spence menggerakkan teori behavioristik Hull mendekati teori kognitif Tolman. Akan tetapi, perludi catat bahwa meskipun Spence mendskusikan ekspektasi, dia mendiskusikannya secara mekanistik, bukan dalam term mentalistik. Spence percaya bahwa hukum yang sama yang berlaku untuk asosiasi S – R juga berlaku untuk mekanisme rG – sG.
Dengan kata lain, Spence percaya bahwa perilaku instumental adalah di pelajari tanpa penguatan, namun penguatan memberikan insentif untuk melakukan apa – apa yang telah di pelajari.

Perubahan dalam persamaan dasar Hull.
Hull mengombinasikan komponen-komponen teori utamanya sebagai berikut:
SER = D x K x SHR  (IR + SIR)
Seperti yang telah kita lihat di atas, persamaan ini berarti jika D atau K sama dengan nol, respons yang telah dipelajari tidak akan muncul betapapun tinggi nilai SHR. Dengan kata lain, menurut Hull,berapa kalipun hewan diperkuat untuk melakukan suatu respons dalam satu situasi, ia tidak akan menampilkan respons itu jikahewan itu tidak memiliki dorongan, bahkan jika hewan itu memiliki dorongan yang tinggi sekalipun, ia tidak akan melakukan respons yang telah dipelajari. Spence merevisi persamaan Hull menjadi:
SER = (D + K) x SHR  IN
Perhatikan bahwa Spence menambahkan D dan K, bukan mengalikannya seperti yang dilakukan Hull. Implikasi utama dari implikasi Spence adalah bahwa respons yang telah dipelajari mungkin akan diberikan dalam situasi tertentu bahkan jika tidak ada dorongan sekalipun.
Implikasi lain dari revisi persamaan oleh Spence ini adalah selama D dan SHR nilainya di atas nol, organism akan memberikan respons yang telah dipelajari walaupun K nilainya nol. Dengan kata lain, organism akan memberikan respons yang telah dipelajarinya, bahkan ketika tidak ada penguatatn untuk melakukannya.
Teori Frustasi-Kompetisi pelenyapan. Menurut Hull, IR dan SIR merupakanrespons menyebabkan keletihan yang menghambat munculnya respons yang telah dipelajari. Spence tidak setuju dengan penjelasan Hull dan mengusulkan frustration competition theory of extinction yang menurut Spence, non-penguatan menyebabkan frustrasi, yang menimbulkan respons yang tidak cocok dengan respons yang telah dipelajari. Frustrasi yang terjadi di kotak tujuan ketika hewan menemukan penguatan disebut primary frustration (RF). Penjelasan Spence tampaknya lebih baik. Menurut Spence, penghilangan penguat yang lebih besar akan menimbulkan frustasi lebih besar dari pada penghilangan penguat kecil; dan karenanya, makin banyak perilaku yang bersaing yang bermunculan. Karena besaran dari perilaku yang bersaing itu lebih besar, maka ia muncul lebih cepet melalui rantai perilaku yang sebelumnya telah dipelajari; karenanya, pelenyapan terjadi lebih cepat.

ABRAM AMSEL
            Dalam bagian ini kita akan membahas efek frustasi (FE) danefek penguatan parsial (PRE). Teori frustasi mengidentifikasikan empat property yang berasal dari property tujuan. Property pertama frutasi primer (Rf) adalah reaksi tak terkondisikan hipotesis terhadap kejadian yang membuat frustasi.teori ini menyebutkan bahwa frustasi primer akan menimbulkan efek motivasional terhadap respons terkait.
            Property kedua adalah stimulasi internal yang berasal dari frustasi primer. Dalam tradisi Hullian, diasumsikan bahwa frustasi primer menghasilkan stimulus dorongan sendiri yang dinamakan frustration drive stimulus (SF) yang dimana merupakan keadaan aversif akan direduksi atau dieliminasi oleh organism. Property ketiga dan keempat adalah respons yang dikondisikan oleh stimuli environmental yang terjadi di hadapan frustasi primer dan di hadapan stimuli tanggapan internal yang diproduksi oleh respons yang dikondisikan.
            Aspek paling penting dari teori Amsel adalah penjelasan tentang partial reinforcement effect (efek penguatan parsial [PRE atau PREE]). PRE merujuk pada fakta bahwa dibutuhkan waktu lebih lama untuk melenyapkan suatu respons jika ia sesekali diperkuat selama training dari pada ia diperkuat secara terus menerus. Dengan kata lain, PRE berarti bahwa penguatan parsial menghasilkan resistensi yang lebih besar terhadap pelenyapan dari pada pengauatan 100 persen.

NEAL E. MILLER; VISCERAL CONDITIONING DAN BIOFEEDBACK
            Pada tahun 1941, Miller dan Dollard menulis social learning and imitation yang mengkaji belajar observasional, dan pada tahun 1950, menulis personality dan psychotherapy. Sampai tahun 1960-an diyakini pengkondisian operan hanya dimungkinkan untuk respons yang melibatkan otot, dan umumnya diyakini bahwa respons yang dimediasi  oleh sraf otonom tidak dapat dikondisikan secara operan.
            Kini ada banyak eksperimen yang menunujukkan bahwa baik manusia maupun non-manusia dapat mengontrol lingkungan internalnya sendiri. Misalnya, ditemukan bahwa individu dapat mengontrol detak jantungnya, tekanan darah, dan suhu tubuhnya sendiri.
            Dalam studi lain terhadap pengkondisian otonom, suatu perangkat dipakai untuk menunjukkan kepada si pasien perubahan kejadian internal yang ingin mereka control. Display semacam ini dinamakan biofeedback karena ia memberi pasien informasi beberapa kejadian biologis di dalam dirinya. Biasanya, setelah monitoring biofeedback selama beberapa waktu, pasien akan menyadari keadaan internal mereka dan dapat merespons sesuai dengan keadaan itu tanpa bantuan biofeedback. Area riset ini yang terkadang dinamakan visceral conditioning, member dampak luas pada praktik pengobatan.
            Teknik biofeedback ini dipakai secara luas, namun kita harus memastikan gangguan mana yang paling mudah diatasi dengan teknik biofeedback, terutama ketika biofeedback dipakai sebagai terapi untuk kondisi yang serius, mulai dari kecanduan alkuhol hingga disfungsi nueurologis. Selain itu, dibutuhkan riset lebih lanjut untuk menentukan pengobatan apa yang berkaitan dengan efek placebo dan mana yang berasal dari proses belajar pasien untuk mengontrol fungsi otonom.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar