Selasa, 17 April 2012

Kesulitan Belajar Anak Cacat Fisik


A.   Anak-Anak dengan Kecacatan Fisik
Orang-orang yang cacat tubuhnya atau cacat fisik adalah mereka yang tubuhnya tidak normal sehingga sebagian besar kemampuanya untuk berfungsi dimasyarakat terhambat.      
Perubahanfisikanaksangat berpengaruh terhadap proses mental dan pergaulan anak. Perubahan atau perkembangan fisik anak yang optimal berpengaruh pada kemampuannya beradaptasi dan berkembang terhadap lingkungan disekitarnya. Konsep diri yang baik akan lebih mudah terbentuk dengan anugerah fisik yang baik, sementara anak-anak dengan cacat fisik mungkin mengalami ketidakpercayaan diri yang akhirnya berpengaruh besar pada pembentukan konsep dirinya.
B.     Anak Yang Memiliki Gangguan Cacat Fisik
Dilihat dari aspek fisik anak kelompok ini dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
1.        Tuna Netra
Anak dikatakan tuna netra apabila mereka kehilangan daya lihatnya sedemikian rupa sehingga tidak dapat menggunakan fasilitas pendidikan anak awas/normal  pada umumnya sehingga untuk mengembangkan potensinya diperlukan layanan pendidikan khusus. Tuna netra dibagi menjadi dua ,yaitu:
a.       Kurang awas (low vision), yaitu seseorang dikatakan kurang awas bila ia masih memiliki sisa penglihatan sedemikian rupa sehingga masih dapat sedikit melihat atau masih bisa membedakan gelap dan terang.
b.      Buta (blind), yaitu seseorangdikatakan buta apabila ia sudah tidak memiliki sisa penglihatan sehingga tidak dapat membedakan gelap dan terang.

a.)     Ciri-ciri Fisik Anak Tuna Netra
1.      Memiliki daya dengar yang sangat kuat sehingga dengan cepat pesan-pesan melalui pendengaran dapat dikirim kepusat pengertian di otak.
2.      Memiliki daya perabaan langsung dapat dikirim ke pusat pengertian di otak.
3.      Kadang-kadang mereka suka mengusap-usap mata dan berusaha membelalakkannya.



4.      Kadang-kadang mereka memiliki prilaku yang kurang sedap bila dilihat oleh orang  normal pada umumnya atau dengan sebutan blindism (misalnya: mengkerut-kerutkan kening, menggeleng-gelengkan kepala secara berulang-ulang dengan tanpa disadarinya).

b.)   Media Pembelajaran  bagi Tunanetra
Selain kekhususan metode pengajaran yang di gunakan oleh anak tunanetra. Mereka pun mempunyai kekhususan dalam menggunakan media pembelajaran. Karena kondisi penglihtan mereka yang tak berfungsi, maka media yang di gunakan untuk pengajaran anak tunanetra ialah media yang dapat dijangkau dengan pendengaran dan perabaannya. Adapun media tersebut ialah Papan baca (Kenop), Reglette dan Stilus (pena) yaitu alat tulis manual, Mesintik Braille  (Perkins Braille) , Kaset.[1] Media Pembelajaran yang diterapkan pada anak-anak tunanetra di beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (Reglette, Pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (Papan huruf dan Optacon); alat bantu berhitung (Cubaritma, Abacus/Sempoa, Speech Calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder. Khusus Alat bantu membaca huruf Braille adalah alat bantu pembelajaran untuk mengenal huruf Braille alat ini biasa disebut pantule singkatan dari Papan Tulis Braille. Alat ini terdiri dari paku-paku yang dapat ditempel pada papan sehingga membentuk kombinasi huruf Braille, seperti laci atau kotak peti, terbuat dari papan dengan lubang-lubang tempat memasukkan pin-pin logam. Salah satu kelemahan papan tulis Braillle ada pada pinnya yang terlepas dari papannya, sehingga kerap hilang. Selain itu, ukurannya yang relatif besar dan terbuat dari papan membuatnya berat untuk dibawa-bawa.[2]
c.)    Macam-Macam Metode Pengajaran yang Dapat diikuti oleh Tunanetra
Metode-metode pengajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, sehingga variasi metode pengajaran  bertambah.
Pada dasarnya metode yang digunakan untuk siswa tunanetra hampir sama dengan siswa normal, hanya yang membedakan ialah adanya beberapa modifikasi dalam pelaksanaannya, sehingga para tunanetra mampu mengikuti kegiatan pembelajaran yang bisa mereka ikuti dengan pendengaran ataupun perabaan.[3]
Di bawah ini, ada beberapa metode yang dapat di laksanakan dengan menggunakan fungsi pendengaran dan perabaan, tanpa harus menggunakan penglihatan. Adapun metode-metode tersebut ialah:
 a.       Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah cara penyampaian sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.[4]
Zuhairini dkk mendefinisikan metode ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan di mana cara penyampaian pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan. Untuk penjelasan uraiannya, guru dapat mempergunakan alat-alat bantu mengajar yang lain, misalnya gambar, peta, denah dan alat peraga lainnya.[5]
Metode ceramah dapat diikuti oleh tunanetra karena dalam pelaksanaan metode ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan penjelasan lisan dan siswa mendengar penyampaian materi dari guru.
 b.   Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau suatu metode di dalam pendidikan di mana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.[6]
Menurut Zakiah Daradjat metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauhmana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.[7]
Siswa tunanetra mampu mengikuti pengajaran dengan menggunakan metode tanya jawab, karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.


c.       Metode Diskusi
Metode diskusi adalah salah satu alternatif metode yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa. Seiring dengan itu metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persolan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan atau ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik atau alternatif terbaik.[8]
Anak tunanetra dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode diskusi, mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode dsikusi, kemampuan daya fikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan. Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan
d.   Metode Sorogan
Metode sorogan adalah metode individual di mana murid mendatangi guru untuk mengkaji suatu kitab dan guru membimbingnya secara secara langsung. Metode ini dalam sejarah pendidikan Islam dikenal dengan sistem pendidikan ” Kuttai” sementara di dunia barat dikenal dengan metode tutorship dan mentoring. Pada prakteknya si santri diajari dan dibimbing bagaimana cara membacanya, menghafalnya, atau lebih jauh lagi menerjemahkan atau menafsirkannya, semua itu dilakukan oleh guru, sementara santri menyimak penuh perhatian dan ngesahi (mensahkan) dengan memberi catatan pada kitabnya atau mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan kepadanya.[9]
Metode ini dapat diikuti oleh anak tunanetra dan inti dari metode ini  adalah adanya bimbingan langsung dari guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauhmana kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.
e.  Metode Bandongan
Metode bandongan adalah salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan islam dimana siswa atau santri tidak menghadap guru atau kyai satu demi satu, tetapi semua peserta didik menghadap guru dengan membawa buku atau kitab masing-masing kemudian guru membacakan, menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya, sementara santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu. Cara belajar ini paling banyak dilakukan di pesantren-pesantren tradisional.
Metode bandongan ini bisa di pergunakan dalam pengajaran kitab atau al-Qur’an dan inti dari metode ini adalah guru memberikan penjelasan materi kepada anak didik tidak secara perorangan. Metode ini merupakan kebalikan dari metode sorogan.
Tunanetra dapat mengikuti metode ini, karena metode ini dapat diikuti dengan tanpa menggunakan indera penglihatan.
f.  Metode Drill
Metode Drill atau latihan adalah suatu metode dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan latihan secara terus menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan yang diharapkan.
Metode Drill merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam metode yang banyak digunakan oleh para pendidik dalam proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran tercapai. Metode ini lebih menitikberatkan kepada keterampilam siswa secara kecakapan motoris, mental, asosiasi yang dibuat dan sebagainya.[10]
Metode Drill dapat disebut juga dengan metode latihan atau praktek secara langsung. Anak tunanetra mampu mengikuti metode ini jika materi yang disampaikan dan media yang digunakan mampu mendukung mereka untuk memahami materi pelajaran.




2.        Tuna Rungu
Seseorang dikatakan tuna rungu apabila mereka kehilangan daya dengarnya sedemikian rupa sehingga untuk pengembangan potensinya diperlukan pendidikan khusus. Tuna rungu dibagi dua, yaitu:
1.      Tuli (deaf)
Jika mereka kehilangan kemampuan mendengar 70 dB  atau lebih sehingga akan mengalami kesulitan untuk dapat mengerti atau memahami pembicaraan orang lain  melalui pendengarannya, walaupun dengan menggunakan atau tidak  menggunakan alat Bantu dengar.
2.      Lemah Pendengaran (a hard of hearing)
Jika mereka kehilangan kemampuan mendengar berkisar antara 35-69 dB,  sehingga mereka mengalami kesulitan untuk mendengar tetapi tidak terhalang baginya untuk mengerti pembicaraan orang lain  walaupun dengan menggunakan atau tidak menggunakan alat Bantu dengar (Moores, 1987:5).

a.)    Ciri-Ciri Fisik Anak Tuna Rungu
Anak-anak pada umumnya berjalan agak membungkuk dan seperti sempoyongan akibat dari kerusakan alat keseimbangan di telinga bagian tengah.
b.)   Ciri-Ciri Mental Anak Tuna Rungu
Anak-anak pada umumnya seperti tetapi  sebenarnya dia normal (bodoh semu) akibat dari ketidakmendengarannya sehingga kurangnya informasi yang diterima di pikiran/otak.
c.)    Ciri-Ciri Sosial Anak Tuna Rungu
Tanda-tanda peringatan kemungkinan tunarungu [11]:
·         Kurang perhatian
·         Perkembangan bicara yang kurang
·         Kesulitan mengikuti instruksi
·         Menanggapi lebih baik pada pekerjaan tugas ketika guru tersebut cukup dekat dengan si anak atau lebih baik pada tugas menulis daripada tugas lain yang memerlukan respons secara lisan
·         Anak mengamati apa yang sedang dilakukan teman lainnya sebelum mulai pekerjaannya sendiri [mencari petunjuk]
·         Meminta temannya dan guru untuk berbicara lebih keras
·         Menjawab tidak tepat atau gagal untuk menjawab
·         Anak mungkin kelihatan malu, menarik diri atau terlihat keras kepala dan tidak menurut
·         Menolak untuk berpartisipasi dalam aktivitas lisan, tidak tertawa terhadap lelucon
·         Sering mengeluh sakit telinga, pilek, radang tenggorokan
·         Anak-anak pada umumnya sering menaruh curiga terhadap orang-orang yang ada disekitarnya.

d.)   Proses Pembelajaran  bagi Anak Tunanetra
1.      Memasukkan anak tunarungu di sekolah akan meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi, khususnya dengan belajar membaca dan menulis, hal ini sering dapat menjadi satu cara mereka berkomunikasi dengan orang lain yang tidak mengetahui bahasa isyarat atau mengerti bicara mereka.
2.      Membaca dapat membantu anak tunarungu mengerti ide, emosi dan pengalaman orang lain. Menulis membantu untuk berkomunikasi, berbagi pikiran dan emosi mereka.
3.      Penting juga menyediakan pendidikan untuk anak perempuan. Sering kali anak perempuan tunarungu ditahan di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah. Tetapi semua anak perempuan - juga yang tunarungu - perlu belajar ketrampilan supaya mereka aman dan dapat mengambil bagian di masyarakat. Mereka mempunyai hak untuk mengetahui hak mereka, di dalam dan melalui pendidikan mereka dapat bekerja dan hidup berguna dan mandiri sebagai seorang dewasa.
4.      Tidak ada kesepakatan umum mengenai apa yang terbaik untuk anak tunarungu: belajar di sekolah umum, belajar di sekolah luar biasa belajar di sekolah asrama atau bahkan kesepakatan apakah mereka harus belajar berbicara atau melalui bahasa isyarat, atau berbicara dan menggunakan ejaan huruf tangan. Mereka dapat menggunakan bahasa isyarat, gerak-gerik, gambar, bahasa bibir, bicara dan membaca serta menulis. Sangatlah penting mempertimbangkan individu anak dan kebutuhan mereka serta apa yang diperlukan dalam konteks di masyarakat atau sekolah.
5.      Mengajar anak dengan dan tanpa tunarungu di kelas yang sama sering kali menjadi satu cara masyarakat dalam mendidik anak tunarungu. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap menyambut anak-anak tunarungu. Beberapa sekolah lokal mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.
Contoh Huruf-huruf Isyarat







Contoh huruf-huruf isyarat
 
 





3.        Tuna Daksa
Seseorang dikatakan mengalami ketunadaksaan apabila terdapat kelainan anggota tubuh sebagai akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk sehingga mengakibatkan turunnya kemampuan normal untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu dan untuk mengoptimalkan potensi kemampuannya diperlukan layanan khusus. Tuna daksa ada dua kategori, yaitu:
a.       Tuna daksa orthopedic (Orthopedically handicapped), yaitu mereka yang mengalami kelainan, kecacatan tertentu sehingga menyebabkan terganggunya  fungsi tubuh. Kelainan tersebut dapat terjadi pada bagian tulang-tulang, otot-otot tubuh maupun pada daerah persendian, baik yang dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh kemudian. Contoh: anak polio.
b.      Tuna daksa syaraf (Neurologically handicapped), yaitu kelainan yang terjadi pada anggota tubuh yang disebabkan gangguan pada urat syaraf. Salah satu kategori penderita tunadaksa syaraf dapat dilihat pada anak cerebral pasly.

a.)    Ciri-Ciri Fisik Anak Tuna Daksa
Anak memiliki keterbatasan atau kekurangan dalam kesempurnaan tubuh. Misalnya tangannya putus, kakinya lumpuh atau layu, otot atau motoriknya kurang terkoordinasi dengan baik.

b.)   Ciri-Ciri Mental Anak Tuna Daksa
·         Anak memiliki kecerdasan normal bahkan ada yang sangat cerdas.
·         Depresi, kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai dengan kedengkian dan permusuhan. Orang tersebut begitu susah dan frustasi atas cacat yang dialami
·         Penyangkalan dan penerimaan, atau suatu keadaan emosi yang mencerminkan suatu pergumulan yang diakhiri dengan penyerahan. Ada saat-saat di mana individu tersebut menolak untuk mengakui realita cacat yang telah terjadi meskipun lambat laun ia akan menerimanya.
·         Meminta dan menolak belas kasihan dari sesama. Ini adalah fase di mana individu tersebut mencoba menyesuaikan diri untuk dapat hidup dengan kondisinya yang sekarang. Ada saat-saat ia ingin tidak bergantung, ada saat-saat ia betul-betul membutuhkan bantuan sesamanya. Keseimbangan ini kadang-kadang sulit dicapai.

c.)    Ciri-Ciri Sosial Anak Tuna Daksa
Anak kelompok ini kurang memiliki akses pergaulan yang luas karena keterbatasan aktivitas geraknya. Dan kadang-kadang anak menampakkan sikap marah-marah (emosi) yang berlebihan tanpa sebab yang jelas. Untuk kegiatan belajar-mengajar disekolah diperlukan alat-alat khusus penopang tubuh, misalnya kursi roda, kaki dan tangan buatan.



C.     Program-Program Bagi Anak-Anak Cacat Fisik
Terdapat program-program pendidikan bagi anak-anak yang mengalami kelainan fisik, intelektual, sosial, emosional, gangguan perseptual, gangguan motorik yang  biasa disebut dengan anak berkebutuhan khusus. Bentuk layanan tersebut berupa :
1.      Individual Educational Program (IEP)
2.      Developmental Progres Report (DPR)
3.      Program pengembangan kemampuan dan melatih kemandirian
4.      Pelatihan kerja
Program pendidikan ini dibuat dengan pendekatan individual educational program, artinya program pendidikan bagi tiap siswa akan berbeda satu sama lain tergantung dengan kebutuhan, kesulitan yang dihadapi serta kemampuan yang dimiliki tiap siswa. Dengan demikian, para terapis kami dapat memberikan perhatian pada kebutuhan siswa secara maksimal.
D.    Cara Untuk Membantu Proses Belajar Anak-Anak dengan Kecacatan Fisik (Psikologi Pendidikan : 2007)
1.      Penderita cacat fisik memiliki lebih banyak keterbatasan dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, sehingga membutuhkan bimbingan atau cara pembelajaran khusus. Mereka dapat dilatih untuk bergaul dan menangkap informasi dilingkungan sekitar dengan tetap menyadari keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Misalnya belajar memahami kode-kode tangan atau bahasa yang bisa dilakukan anak-anak yang mengalami cacat fisik.
2.      Dengan alat medis, seperti alat bantu dengar, kaki palsu, atau bantuan untuk mendengarkan informasi yang ada di lingkungan sekitar anak-anak dalam keadaan cacat seperti ini akan sangat sensitif perasaannya, ia akan merasa terasing bahkan akan selalu diejek oleh teman-teman bermainnya, sehingga perlu adanya motivasi semangat dan perhatian lebih agar dapat bersaing dengan anak-anak normal lainnya.




[1] Abbas Sukardi, Wawancara, Jakarta, 24 Agustus 2008
[2] Mashoedah,”Media Pembelajaran Huruf Braille,” dari blog.uny.ac.id/mashoedah, 30 November 2008
 [3] Abbas Sukardi, Wawancara, Jakarta, 24 Agustus 2008
[4] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), cet.1, h.136
[5] Zuhairini, Abdul Ghafur, Slamet As. Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Usaha Nasional: Surabaya,1983), cet.8. hal.83
[6] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), cet.1, h.140-141
[7] Zakiah Daradjat,dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1995),cet.1, h.307
[8]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), cet.1, h.146
[9]  Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), cet.1, h. 152-153
[10] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), cet.1, h. 156-179
[11] UNESCO (2003) “Understanding and responding to children’s needs in inclusive classrooms” Guide for teachers] @rungu








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar