Selasa, 17 April 2012

BK KOMPREHENSIF


Program Bimbingan Konseling Komprehensif

            Saat ini telah berkembang sebuah konsep baru tentang sebuah konsep program bimbingan dan konseling yaitu program bimbingan konseling komprehensif. Pola program ni menggantikan pola perkembangan 17 + (yang katanya beberapa ahli BK di Indonesia, model ini tidak memiliki acuan yang jelas) yang telah banyak kita ketahui. Pada dasarnya pola ini mengadopsi dari pola bimbingan konseling yang ada di Amerika. Secara garis besar sejarah dari model ini dimulai dari tahun 1900, dikenal dengan model bimbingan Parsonian(1910an), bimbingan identik dengan pendidikan, bimbingan penyaluran dan penyesuaian (1920an), bimbingan proses klinis, bimbingan pengambil keputusan, bimbingan sistem elektrik, bimbingan sebagai proses layanan, hingga pada akhirnya bimbingan perkembangan. Program bimbingan konseling komprehensip disarkan pada 4 bidang yaitu kurikulum bimbingan, layanan responsif, perencanaan individul, dan dukungan sistem. Keempat bidang ini mengarah ke personal/social development, academic developmet,dan karier devopment yang arahkanya kepada student achievment&success. Pada dasarnya pendesainan program tidak jauh beda seperti halnya ketika menyusun sebuah program BK. Yaitu :
1. Mendefinisikan struktur dasar bimbingan yang hendk kita lakukan
2. Mengidentifikasi dan mendaftar kompetensi siswa baik dari segi area isi, level sekolah atu tingkatan kelompok
3. Mengkonfirmasi kembali dukungan sistem
4. Menetabpan prioritas dari program yang aka diberikan (desain kualitatif)
5. Menetapkan parameter dan alokasi (desain Kuantitatif)
6. Menuliskan dan menyalurkan gambaran dari program yang diinginkan
Pada dasarnya konsep ini mengupayakan memandirikan siswa. Adapun standar kemandirin siswa dapat dikelompokan menjadi kematangan emosi, kematangan intelektual, kesaaran untk menikah dan berkeluarga, kesadaran tanggung jawab sosial, kesadaran gender, pengembangan pribadi, kemandirian perilaku ekonomis, wawasan dan kesiapan karier, kematangan hubungan sebaya, landasan hidup religius, landasan perilaku etis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar